Nepotiz – Sharp, salah satu produsen elektronik terkemuka dunia, baru-baru ini mengumumkan bahwa perusahaan tersebut mengalami kerugian luar biasa akibat sejumlah keputusan bisnis penting yang diambil untuk memulihkan kondisi keuangan perusahaan.
Dalam laporan terbaru, Sharp mengungkapkan bahwa mereka mencatatkan kerugian sebesar 26,1 miliar yen atau setara Rp 2,8 triliun yang disebabkan oleh beberapa langkah yang diambil untuk memperbaiki struktur bisnis dan keuangan, termasuk penjualan bisnis modul kamera untuk smartphone dan penghentian produksi panel LCD untuk televisi.
Penjualan bisnis modul kamera smartphone merupakan salah satu keputusan utama yang diambil oleh Sharp. Bisnis yang dijual kepada induk perusahaan, Hon Hai Precision Industry Co. (Foxconn), mengalami penurunan nilai saat dijual dibandingkan dengan nilai tercatat di pembukuan Sharp dan hal ini mengakibatkan kerugian yang signifikan.
Langkah ini sebenarnya bagian dari strategi perusahaan untuk fokus pada area bisnis yang lebih menguntungkan dan mengurangi biaya operasional yang tinggi dari bisnis yang kurang berkembang di pasar global.
Walaupun Sharp memiliki teknologi yang cukup kompetitif dalam pasar kamera smartphone, persaingan yang semakin ketat dan margin keuntungan yang semakin menyempit membuat sektor ini tidak lagi menjadi pilihan strategis jangka panjang.
Di sisi lain, Sharp juga menghentikan produksi di pabrik LCD untuk televisi di Osaka, Jepang. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan penurunan permintaan global untuk televisi berbasis teknologi LCD yang kian digantikan oleh teknologi panel baru seperti OLED dan mini-LED.
Penutupan pabrik ini menjadi langkah penting untuk mengurangi kerugian lebih lanjut akibat menurunnya daya saing produk televisi dengan teknologi LCD, sekaligus memungkinkan perusahaan untuk mengalihkan fokus pada pengembangan produk dengan prospek pasar yang lebih cerah.
Namun, keputusan-keputusan ini tidak hanya membawa dampak finansial, tetapi juga sosial, terutama bagi pekerja yang terdampak oleh penutupan pabrik dan perubahan struktur bisnis.
Sharp telah menjanjikan bahwa mereka akan memberikan dukungan kepada karyawan yang terdampak, termasuk dengan program pelatihan ulang dan alokasi pekerjaan di divisi yang lebih berkembang, seperti teknologi OLED dan AI.
Selain penutupan pabrik dan penjualan bisnis, Sharp juga melaporkan penurunan pendapatan sebesar 6% pada periode April hingga Desember 2024, dengan total penjualan mencapai 1,657.9 miliar yen atau sekitar Rp 178 triliun.
Pada periode yang sama, Sharp juga mengalami kerugian bersih sebesar 3,5 miliar yen atau sekitar Rp 376 miliar, yang menandakan kerugian pertama kalinya dalam dua tahun terakhir. Faktor penyebab utama penurunan ini meliputi biaya operasional yang tinggi, ketidakstabilan pasar global, serta fluktuasi mata uang yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Sebagai respons terhadap kondisi ini, Sharp juga mengoreksi proyeksi keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025. Sebelumnya, perusahaan berharap dapat mencatatkan laba bersih sebesar 5 miliar yen atau sekitar Rp 537 miliar, namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang ada, proyeksi tersebut kini diragukan dan hasil akhirnya masih belum bisa dipastikan.
Strategi Pemulihan Keuangan Sharp
Sebagai upaya untuk memperbaiki posisi keuangan, Sharp tengah menjajaki opsi untuk menjual sebagian asetnya, termasuk properti di kawasan pabrik di Osaka, yang sedang dalam tahap negosiasi dengan SoftBank. Keberhasilan transaksi ini diharapkan dapat membantu perusahaan mencatatkan keuntungan dan mengurangi kerugian finansial lebih lanjut.
Di tengah tantangan besar ini, Sharp tetap berkomitmen untuk melanjutkan langkah-langkah pemulihan. Fokus perusahaan asal Jepang tersebut beralih pada inovasi teknologi, dengan harapan dapat membuka peluang pasar baru yang lebih menguntungkan.
Teknologi-teknologi seperti panel OLED dan mini-LED, serta pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan (AI) di sektor elektronik rumah tangga, menjadi area prioritas perusahaan. Sharp percaya bahwa pengembangan teknologi baru ini dapat menjadi landasan bagi pemulihan dan pertumbuhan perusahaan di masa depan, meskipun jalan menuju pemulihan tidaklah mudah.
Dengan langkah-langkah strategis yang diambil, meskipun membawa kerugian dalam jangka pendek, Sharp berharap dapat mengubah arah dan kembali ke jalur profitabilitas.
Fokus pada teknologi yang lebih relevan dan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien diharapkan dapat mengembalikan daya saing perusahaan dalam industri elektronik global, dan memastikan kelangsungan serta pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.