Nepotiz – Pada 14 Juli lalu, sejarah baru tercipta di Spanyol dengan kelahiran Teodoro, seekor domba yang menjadi hewan pertama di negara ini yang dimodifikasi secara genetik.
Domba Teodoro lahir di sebuah peternakan eksperimental di Madrid, hanya 1.700 meter dari kantor Pusat Pemerintah Spanyol.
Nama Teodoro dipilih untuk menghormati Teodoro Álvarez, seorang gembala domba dari desa Aldea Real, Segovia, yang telah mati tahun ini.
Teodoro Álvarez adalah kakek dari salah satu pemimpin penelitian ini, Pablo Bermejo Álvarez, seorang dokter hewan berusia 41 tahun yang berasal dari Madrid.
Para ilmuwan berhasil mengubah DNA Teodoro untuk menghilangkan satu protein yang diduga berperan penting dalam proses pengenalan sperma oleh sel telur.
Penemuan ini diyakini dapat menjadi kunci dalam menyelesaikan berbagai kasus infertilitas, baik pada wanita maupun pada hewan ternak.
Proses Pembuatan Teodoro, Domba Hasil Modifikasi Genetik
Penelitian ini dimulai dengan pencarian sel telur domba di sebuah rumah pemotongan kecil di desa Mondéjar, wilayah Alcarria, Guadalajara.
Di tempat ini, domba yang masih produktif disembelih sesuai dengan ritual halal, yaitu dengan memotong lehernya menghadap ke arah Mekah, untuk kemudian dagingnya dijual ke pasar Muslim.
Para peneliti kemudian membeli sperma dari seekor domba jantan ras churra di sebuah perusahaan di Zamora, dan berhasil memperoleh embrio Teodoro yang telah dimodifikasi secara genetik menggunakan teknik CRISPR.
CRISPR, yang ditemukan pada tahun 2012 oleh ahli biokimia Prancis Emmanuelle Charpentier dan ahli kimia Amerika Serikat Jennifer Doudna, memungkinkan para ilmuwan untuk melakukan penyuntingan gen dengan cara yang lebih sederhana dan lebih murah.
Teknik ini sangat revolusioner dan telah membawa ilmuwan Charpentier dan Doudna meraih Nobel Kimia pada tahun 2020 lalu.
Teodoro: Langkah Lanjut dari Dolly
Kelahiran Teodoro mengingatkan kita pada Dolly, domba kloning pertama yang lahir pada 5 Juli 1996 di Institut Roslin, Edinburgh.
Dolly diciptakan oleh tim yang dipimpin oleh embriolog Inggris, Ian Wilmut.
Mereka menggunakan sel telur yang telah dikosongkan dari seekor domba berwajah hitam asal Skotlandia dan inti sel dewasa yang diambil dari kelenjar susu domba ras Finn Dorset.
DNA dari sel ini kemudian dikloning untuk menghasilkan Dolly. Namun, Teodoro bukanlah sekadar replika dari Dolly.
Dalam hal ini, para ilmuwan tidak hanya melakukan kloning tetapi juga melakukan modifikasi genetik yang lebih canggih.
Pada tahun 1997, dua domba bernama Polly dan Molly lahir sebagai hasil kloning dari sel dewasa seperti Dolly, tetapi dengan tambahan gen untuk memproduksi protein terapeutik dalam darah mereka.
Masa Depan Modifikasi Genetik
Teodoro saat ini tumbuh dengan baik di peternakan eksperimental milik Institut Nasional Penelitian dan Teknologi Pertanian dan Pangan (INIA-CSIC) di Madrid.
Priscila Ramos Ibeas (37), seorang dokter hewan dari Burgos, turut memimpin penelitian ini.
Saat ini, penelitian ini masih diselimuti oleh kerahasiaan tertentu untuk mencegah tim lain mendahului mereka. Para peneliti masih merahasiakan gen mana yang telah mereka hilangkan.
Di Spanyol, modifikasi genetik embrio hewan ternak di laboratorium bukanlah hal yang baru, terutama sejak hadirnya teknik CRISPR yang revolusioner.
Namun, sangat jarang embrio hasil modifikasi ini diimplantasikan ke dalam rahim induk untuk kemudian dilahirkan.
Pada tahun 2021, tim Bermejo juga berkolaborasi dalam proyek modifikasi genetik babi yang dipimpin oleh laboratorium Joaquín Gadea di Universitas Murcia.
Empat tahun sebelumnya, kelompok Bermejo berhasil menciptakan hewan ternak pertama yang dimodifikasi genetik di Spanyol, yaitu kelinci yang tidak memiliki protein ZP4, salah satu dari empat protein yang membentuk cangkang yang mengelilingi embrio mamalia sebelum implantasi ke rahim.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa protein ini sangat penting dan ketiadaannya menyebabkan infertilitas.