Nepotiz – Pada Rabu (05/02/2025), Nahdlatul Ulama (NU) menggelar peringatan Hari Lahir yang ke-102 tahun dengan rangkaian acara yang penuh khidmat dan dihadiri oleh banyak tokoh penting. Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah pidato dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang turut hadir dalam acara tersebut.
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan untuk bergabung dalam perayaan yang bersejarah ini dan berbagi perasaan kedekatannya dengan ulama yang sudah terbentuk sejak lama, bahkan sejak masa awal kariernya sebagai prajurit.
Peringatan Hari Lahir NU yang ke-102 kali ini dihadiri oleh berbagai tokoh nasional, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden ke-13 K.H. Ma’ruf Amin, dan tokoh lainnya yang turut berkontribusi pada kemajuan Indonesia.
Sorakan dan tepuk tangan meriah mengiringi pidato Prabowo, menunjukkan bagaimana momen ini sangat berarti bagi umat NU dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya hubungan antara tentara dan ulama, serta bagaimana kedekatan ini sudah ada sejak masa ia aktif sebagai prajurit. Prabowo menyatakan bahwa hubungan antara tentara dan ulama adalah hal yang alami, karena prajurit yang sering menghadapi bahaya dan ancaman selalu mencari nasehat dan doa dari ulama untuk memberikan ketenangan batin.
Ia menyampaikan bahwa kedekatan ini bukan hanya terbentuk dalam acara-acara besar seperti ini, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari prajurit. Menurutnya, doa dari ulama adalah sumber kekuatan bagi mereka yang berada dalam situasi penuh risiko.
Prabowo juga menggambarkan perasaan damai yang ia rasakan ketika berada di tengah-tengah para ulama dan hadirin dalam acara tersebut. Ia merasakan aura kebersamaan yang penuh dengan niat baik dan kedamaian.
Perasaan ini menurutnya sangat penting, terutama bagi seorang pemimpin, agar dapat bekerja dengan hati yang lapang dan fokus pada tujuan yang lebih besar, yaitu kebaikan bersama.
Sebagai organisasi yang didirikan pada tahun 1926, NU memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. NU tidak hanya berperan dalam bidang agama, tetapi juga dalam bidang sosial, pendidikan, dan politik.
Salah satu kontribusi besar NU adalah dalam pengembangan pendidikan di pesantren-pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui lembaga-lembaga pendidikan ini, NU mencetak generasi muda yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki pemahaman yang luas tentang nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme.
Pendidikan yang diberikan oleh NU di pesantren-pesantren juga mengajarkan tentang pentingnya toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Ini sangat relevan dalam konteks Indonesia yang dikenal dengan keberagaman budaya, suku, dan agama.
Dalam pidatonya, Prabowo menggarisbawahi pentingnya menjaga kerukunan dan solidaritas di tengah-tengah perbedaan. Hal ini juga menjadi pesan penting dari peringatan Hari Lahir NU ke-102 ini, yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga persatuan bangsa meskipun terdapat perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan persatuan untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam konteks ini, NU berperan besar dalam menciptakan iklim sosial yang harmonis, di mana umat beragama dapat hidup berdampingan dengan damai. Melalui pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosialnya, NU terus berupaya menanamkan nilai-nilai perdamaian, kebersamaan, dan keadilan di tengah masyarakat.
Sebagai tambahan, peringatan Hari Lahir NU ke-102 ini juga menjadi momen untuk memperingati jasa-jasa para ulama dan tokoh-tokoh NU yang telah berjuang untuk Indonesia. Tokoh-tokoh ini bukan hanya dikenal di kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan masyarakat luas karena kontribusi mereka dalam berbagai bidang.
Keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat memberikan teladan tentang pentingnya menjaga moralitas, kedamaian, dan persatuan bangsa.
Peran besar NU dalam pembangunan Indonesia tidak hanya terlihat dalam bidang agama, tetapi juga dalam kontribusinya terhadap perekonomian, kebudayaan, dan politik. NU menjadi garda terdepan dalam menciptakan masyarakat yang beradab, damai, dan saling menghormati. Sebagai organisasi yang sudah berusia lebih dari seratus tahun, NU terus menunjukkan relevansinya dalam kehidupan sosial-politik Indonesia.
Di akhir pidatonya, Prabowo menyampaikan harapannya agar semangat kebersamaan dan kedamaian yang terjalin dalam acara peringatan ini dapat terus dijaga dan dilanjutkan oleh generasi penerus bangsa.
Sebagai seorang prajurit, ia menyadari betul bahwa persatuan adalah kunci utama dalam menjaga kemajuan Indonesia. Kedekatan antara tentara dan ulama, yang telah terjalin lama, merupakan simbol betapa pentingnya nilai-nilai spiritual dan kebangsaan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Peringatan Hari Lahir NU ke-102 ini bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya menjaga kedamaian, toleransi, dan persatuan di tengah-tengah keberagaman yang ada di Indonesia. Semangat tersebut perlu dijaga agar Indonesia terus berkembang menjadi negara yang kuat, adil, dan sejahtera bagi seluruh warganya.