Nepotiz – Majalaya, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memiliki sejarah yang kaya dan erat kaitannya dengan industri tekstil Indonesia. Meskipun saat ini tidak lagi dikenal dengan julukan “Kota Dollar,” perjalanan panjang Majalaya sebagai pusat tekstil di Indonesia tetap diperhatikan.
Dari masa kolonial hingga era modern, Majalaya telah mengalami berbagai perubahan yang mengubah wajah industri tekstil Indonesia.
Pada awal abad ke-20, Majalaya mulai dikenal sebagai pusat industri tekstil dengan kegiatan menenun yang dilakukan secara tradisional oleh perempuan-perempuan desa. Dengan menggunakan alat tenun sederhana, mereka memproduksi kain yang dikenal memiliki kualitas baik.
Awalnya, kegiatan ini hanya menjadi pekerjaan sampingan yang dilakukan di rumah-rumah, tetapi seiring dengan meningkatnya permintaan pasar, industri tekstil di Majalaya mulai berkembang. Pada tahun 1930-an, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan alat tenun mekanis yang lebih efisien.
Inovasi ini membawa dampak besar bagi industri tekstil, karena produksi kain dapat dilakukan dengan lebih cepat dan dapat memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Namun, kondisi industri tekstil Majalaya tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1942, ketika Jepang menduduki Indonesia, industri tekstil Majalaya mengalami kemunduran yang cukup serius. Jepang melarang impor bahan baku dan pewarna, serta mengambil alih seluruh industri tekstil yang ada di Majalaya.
Tak hanya itu, ribuan alat tenun juga dirampas dan dikirim ke negara-negara yang dikuasai Jepang. Akibatnya, industri tekstil Majalaya terpuruk, dan banyak pengrajin yang kehilangan alat tenun mereka. Pada akhir Perang Dunia II, hanya sekitar 25 persen dari peralatan tenun yang tersisa, memaksa banyak pabrik dan pengrajin untuk berhenti beroperasi.
Setelah Indonesia merdeka, industri tekstil Majalaya mulai bangkit kembali. Pada 1950-an hingga 1980-an, Majalaya memasuki masa kejayaannya sebagai “Kota Dollar.” Kualitas produk tekstil yang dihasilkan mampu menembus pasar ekspor, menghasilkan devisa dalam jumlah besar bagi negara.
Pada awal 1960-an, Majalaya bahkan menguasai sekitar 40 persen dari total produksi kain di Indonesia. Kejayaan ini bukan hanya memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, tetapi juga menjadikan Majalaya sebagai salah satu pusat industri tekstil terbesar di Asia Tenggara pada masa itu.
Namun, masa kejayaan Majalaya sebagai pusat industri tekstil tidak bertahan lama. Pada akhir 1990-an, Indonesia dilanda krisis ekonomi dan politik yang membawa dampak besar terhadap sektor industri, termasuk tekstil.
Krisis tersebut menyebabkan penurunan harga barang dan kerugian besar bagi banyak pabrik tekstil. Ditambah lagi, persaingan dengan negara-negara lain dan masuknya produk tekstil impor semakin memperburuk keadaan. Banyak pabrik yang terpaksa gulung tikar, sementara yang lainnya kesulitan untuk bertahan.
Di era modern, meskipun industri tekstil di Majalaya menghadapi banyak tantangan, sebagian pengrajin masih bertahan dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Penggunaan mesin modern dalam produksi tekstil semakin berkembang, meskipun masih ada pengrajin yang setia menggunakan metode tradisional.
Mereka mempertahankan kualitas produk dengan alat tenun manual, meskipun produksi mereka lebih lambat dibandingkan dengan pabrik besar yang menggunakan mesin. Keunikan dan kualitas tinggi produk-produk ini menjadi nilai jual yang masih dicari oleh pasar.
Selain itu, Majalaya juga memiliki fasilitas penting yang mendukung distribusi produk tekstil, yaitu stasiun kereta api yang dibangun pada tahun 1922.
Jalur kereta api ini awalnya digunakan untuk mengangkut produk perkebunan dari Bandung Selatan, namun seiring berjalannya waktu, jalur ini berperan penting dalam mendistribusikan produk tekstil Majalaya ke berbagai daerah di Indonesia. Inilah salah satu faktor yang membantu industri tekstil Majalaya berkembang pesat pada masa kejayaannya.
Saat ini, meskipun Majalaya tidak lagi sepopuler dahulu, kawasan ini tetap dikenal sebagai salah satu pusat industri tekstil di Indonesia. Sebagian pengrajin masih melanjutkan tradisi yang telah ada selama puluhan tahun, meskipun dengan tantangan yang semakin besar.
Keberadaan Majalaya sebagai pusat tekstil yang memiliki sejarah panjang menjadi bukti bahwa meskipun banyak tantangan yang dihadapi, warisan dan kualitas industri tekstil di daerah ini tetap hidup dan berkembang hingga saat ini.